Kamis, 19 Agustus 2010

Sastra Melayu (Hikayat)

Diposkan oleh Resti Lestarini di 14.02
Tadi, siswa kelas XI IIA-3 diberikan materi tentang sastra, yaitu Hikayat. Jadi untuk menambah sedikit pengetahuan mengenai Hikayat, saya memberikan sedikit materi yang telah saya cari dan telah saya dapat dari berbagai sumber. Apabila masih banyak kekurangan atau kalian ingin memberikan komentar, silahkan kirim pesan melalui blog ini atau melalui email: restilestarinilovekorea@yahoo.co.id . Komentar-komentar yang dikirim kiranya dapat membantu saya untuk memperbaiki segala kesalahan. Terimakasih telah mengunjungi blog saya. Berikut ini materi tentang Hikayat yang saya buat.

Sastra Melayu

Sastra Melayu Klasik bermula pada abad ke-16 Masehi. Semenjak itu sampai sekarang gaya bahasanya tidak banyak berubah. Dokumen pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu klasik adalah sepucuk surat dari raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja João III di Portugal dan bertarikhkan tahun 1521 Masehi.

Daftar bentuk sastra Melayu

Hikayat




Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.

Salah satu hikayat yang populer di Riau adalah Yong Dolah.

Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.

Unsur-Unsur Intrinsik dalam Hikayat
- Alur : tahapan cerita yang bersambungan.
- Tema : gagasan/ide/dasar cerita. (Alur maju, alur mundur, alur gabungan atau alur sorot balik)
- Penokohan : pemain/orng yang berperan di dalam cerita.

Unsur Ekstrinsik dalam Hikayat
- Nilai moral
- Nilai agama

Berikut ini adalah daftar hikayat dalam bahasa Melayu:


Hikayat Aceh
Hikayat Abdullah
Hikayat Abu Nawas
Hikayat Abu Samah
Hikayat Amir Hamzah
Hikayat Banjar
Hikayat Bakhtiar
Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Hang Tuah
Hikayat Iblis
Hikayat Indraputra
Hikayat Iskandar Zulkarnain
Hikayat Isma Yatim
Hikayat Jaya Lengkara
Hikayat Kalila dan Daminah
Hikayat Kerajaan Sikka
Hikayat Malim Dewa
Hikayat Musang Berjanggut
Hikayat Merong Mahawangsa
Hikayat Muhammad Hanafiah
Hikayat Nakhoda Asik
Hikayat Nakhoda Muda
Hikayat Negeri Riau
Hikayat Negeri Johor
Hikayat Pahang
Hikayat Panca Tanderan
Hikayat Pandawa Jaya
Hikayat Panji Kuda Semirang
Hikayat Patani
Hikayat Pelanduk Jenaka
Hikayat Purasara
Hikayat Putera Jaya Pati
Hikayat Raja Akil
Hikayat Raja Budiman
Hikayat Raja Jumjumah
Hikayat Raja Muda
Hikayat Raja-raja Pasai
Hikayat Samaun
Hikayat Sang Boma
Hikayat Sang Bima
Hikayat Seri Rama
Hikayat Si Miskin
Hikayat Siak
Hikayat Sultan Ibrahim
Hikayat Syah Mardan
Hikayat Tanah Hitu

Hikayat Hang Tuah

Tersebutlah perkataan Hang Tuah, anak Hang Mahmud, tempat duduknya di Sungai Duyung. Setiap orang yang berada di sana mendengar kabar raja di Bintan berbudi pekerti dan tutur katanya sangat menawan.

Hang Mahmud yang mendengar kabar itu berkata kepada istrinya, Dang Merdu. "Baiklah kita pergi ke Bintan. Kita ini keluarga miskin. Pindah ke Bintan dengan harapan supaya mudah mencari penghidupan yang layak."

Dang Merdu berkata, "Setuju apa yang dikatakan tadi!"

Maka pada malam itu, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas kepala anaknya, Hang Tuah. Maka Hang Mahmud pun terkejut atas mimpinya tadi. Kemudian, bangun dari tidurnya dan diusapnya Hang Tuah itu sambil menciumnya dengan penuh kasih sayang.

Setelah hari siang, semua mimpi Hang Mahmud diceritakan kepada pada anak dan istrinya. Setelah mendengar cerita mimpi itu, Dang Mahmud memandikan Hang Tuah. Kemudian, diberinya kain dan baju serba putih. Setelah itu, diberinya makan nasi kunyit dan telur ayam. Tetua yang di sana mendoakan agar Hang Tuah selamat dan dijauhkan dari segala bala. Anak itu kembali dipeluk dan diciumi dengan penuh kasih.

Hang Mahmud berkata kepada istrinya, "Anak kita ini harus dijaga baik-baik. Jangan dibiarkan bermain jauh-jauh dari kita sebab ia sangat nakal. Kita usahakan pindah ke Bintan sebab di sana banyak
guru mengaji."
"Kalau begitu, kita harus menyiapkan segalanya."
Maka Hang Mahmud pun bersiap-siap. Mereka akan berlayar ke Bintan. Setibanya di sana, Hang Mahmud tinggal di dekat kampung bendahara Paduka Raja. Hang Mahmud berjualan makanan di kedainya.

Setelah Hang Tuah besar, dia bekerja membantu kedua orang tuanya, mencari kayu bakar. Dia pula yang memotong kayu-kayu itu dengan kapak. Ibunya memerhatikan Hang Tuah yang sedang bekerja sambil duduk-duduk di kedainya.

Apabila Hang Mahmud tiba dari mencari rezeki, Hang Tuah menyambutnya. Jika hendak pergi ke manapun, Hang Tuah selalu minta izin kedua orang tuanya. Dengan begitu, Hang Tuah sudah paham budi pekerti. Pada usianya yang sepuluh tahun, dia sudah pandai bergaul dengan sesamanya. Dia bersahabat dengan Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Hang Tuah menyayangi sahabatnya itu. Jika bermain dengan mereka ke mana pun, selalu bersama-sama. Begitu pula ketika makan. Mereka seperti saudara kandung.

Pada suatu hari, Hang Tuah berkata kepada sahabatnya, "Hai, saudaraku! Mampukah kita melayarkan sebuah perahu agar kita dapat merantau ke tempat lain untuk mencari makan?"

Hang Jebat dan Hang Kasturi menjawab, "Pakai perahu siapa?"

"Baiklah kalau begitu, aku akan meminjam perahu ayahku."

Setelah bersepakat, Hang Jebat dan Hang Kasturi pulang untuk menyiapkan perbekalan.

Orang tua mereka masing-masing mengizinkan anak-anaknya merantau.

Setelah perlengkapan disiapkan, Hang Tuah diberi sebilah keris oleh ayahnya. Begitu pula sahabat Hang Tuah lainnya dibekali persenjataan oleh orang tua masing-masing. Mereka berpamitan dan segera berlayar menuju Pulau Tinggi.

Di tengah samudra yang diarungi, mereka melihat perahu lain yang menuju Pulau Tinggi. Rupanya perahu itu adalah perahu musuh. Hang Tuah dan sahabatnya berembuk sambil berkata, "Bagaimana kita menghadapi musuh yang banyak itu?"

Dengan tenang, Hang Tuah berkata lagi, "Hai, saudaraku! Tidak ada jalan lain, kita harus berusaha mempertahankan diri. Kita harus berbuat sesuatu. Tidak mungkin rasanya kita menghadapi musuh dengan kapal yang banyak dan besar." Hang Tuah membelokkan perahunya menuju pulau itu. Setelah sampai di darat, perahu musuh mendekat pula ke pulau itu. Rombongan dari perahu besar itu memerhatikan kelima anak sebaya itu dan dinilainya baik-baik.

Dengan senang hati, orang di perahu besar itu ingin menjadikan mereka budaknya. Sambil menanti orang di perahu besar itu sampai ke daratan, Hang Tuah dan sahabatnya berdiri di tepi daratan. Rombongan orang di perahu besar itu hendak menangkap mereka. Namun, Hang Tuah dan sahabatnya waspada sambil memegang senjatanya masing-masing.

Ketika orang itu hendak menangkap mereka, Hang Tuah menikam orang itu. Paha orang itu terluka parah. Hang Jebat juga menghadang musuh lainnya dengan senjatanya. Akan tetapi, musuh lainnya menghujani Hang Tuah dan kawan-kawannya dengan senjata sumpit.

Semua orang di perahu besar itu berteriak, "Bunuhlah budak-budak celaka ini. Jangan dikasihani!"

Salah seorang di kapal besar itu melarang membunuh anak-anak itu sambil berkata, "Hai, budak-budak! Lebih baik menyerah daripada kami bunuh."

Hang Jebat malah menjawab, "Cuih, kami tidak sudi menuruti keinginanmu!" Hang Jebat dan sahabat lainnya kembali menyerang orang itu dengan senjatanya.

"Keterlaluan budak-budak ini. Bunuhlah budakbudak celaka ini!" seru orang di kapal besar sambil menghujani Hang Tuah dan sahabatnya dengan senjata sumpit.

Hang Tuah siaga dengan keris terhunusnya. Begitu pula sahabat lainnya bersiap dengan senjatanya. Mereka balas menyerang dan berhasil melumpuhkan beberapa orang. Orang di perahu besar itu merasa kalah dan pergi meninggalkan pulau itu.

Setelah musuh itu lari, Hang Tuah dan sahabatnya merampas salah satu perahu musuh. Hang Tuah kemudian berlayar menuju Singapura. Musuh yang melarikan diri itu melaporkan kejadian tersebut kepada penghulunya. Di perahu besar, penghulu itu merasa terhina dan marah besar. Dari kapal besar itu, sang penghulu melihat perahu yang dikemudikan Hang Tuah berlayar menuju Singapura. Maka penghulu musuh itu pun berdiri di tiang besar sambil berkata, "Segeralah kita berlayar dan hadanglah perahu Hang Tuah itu."

Sumber: Bunga Rampai Melayu Kuno, 1952, dengan
penyesuaian ejaan.



Gurindam

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Gurindam Lama

Contoh gurindam:

Pabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang

Dengan ibu hendaknya hormat
Supaya badan dapat selamat


Gurindam Dua Belas

Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.


Karmina

Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

Contoh karmina:

Sudah gaharu cendana pula. Sudah tahu masih bertanya pula.


Pantun

Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b, a-b-b-a, a-a-b-b. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. 1 baris terdiri dari 4-5 kata, 8-12 suku kata. Pantun berasal dari melayu.

Contoh Pantun:

Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang


Seloka

Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

Contoh seloka 4 baris:

anak pak dolah makan lepat,
makan lepat sambil melompat,
nak hantar kad raya dah tak sempat,
pakai sms pun ok wat ?

Contoh seloka lebih dari 4 baris:

Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui


Syair

Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud). Syair berasal dari Arab.


Talibun

Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.

Contoh Talibun :

Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

3 komentar:

Frey si pencuap mengatakan...

Mbak... entry-nya sangat ngebantu dalam tugas saya.... thanks a lot :D

Anonim mengatakan...

salam kenal,,..

mau tanya mbak,,apa hikayat raja budiman itu emang dalam bahasa inggris tow,,,,yg bhs melayu ada gak..????

terima kasih..

Resti Lestarini mengatakan...

Frey, ya. Smga nlainya bgus... :)
Anonim: Hikayat Raja Budiman itu ada yang berbahasa Melayu. Diperpustakaan sekolahku ada H.Raja Budiman yang berbahasa Melayu... :)

Poskan Komentar

Silahkan di isi ya????

 

Resti Lestarini Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea